Cerita Diajeng Lestari Membesarkan Situs Hijup.com

Handy.co.idDiajeng Lestari pendiri hijup.com. Ide bisnis sering muncul dari pengalaman pribadi. Salah satu yang dapat mengubah pengalamannya menjadi bisnis ialah Diajeng Lestari, pendiri situs Hijup.com.

Sebelum merintis Hijup.com, perempuan yang akrab dipanggil Ajeng ini merupakan karyawan sebuah perusahaan internasional. Sebagai seorang muslimah yang aktif, Ajeng mengaku kesulitan untuk mencari baju muslim untuk bekerja.

Berangkat dari pengalaman ini, dia pun menyadari peluang untuk menciptakan pasar busana muslim. Ide ini semakin kuat karena kecintaan Ajeng terhadap produk fashion.

Dukungan penuh dari sang suami, Ahmad Zaki yang merupakan lulusan Teknologi Informatika (TI) di Institut Teknologi Bandung (ITB), memberanikan Ajeng untuk mengambil keputusan untuk membuka bisnis fashion muslim. Di tahun 2011, Ajeng membuat hijup.com sebagai sebuah platform online mall.

Konsep Hijup ialah sebuah online mall yang mewadahi desainer-desainer fashion muslim di Indonesia. Situs ini juga menyasar semua perempuan muslimah yang ingin berbelanja.

Berangkat dari konsep ini, Ajeng yang aktif dalam komunitas muslimah mulai mengajak para desainer yang juga aktif di komunitas muslimah. Mereka di antaranya ialah Ria Miranda, Jenahara dan Restu Anggraini.

Berkat usaha Ajeng yang melobi para perancang di awal pendiriannya, Hijup berhasil menghimpun 20 desainer.

Sepintas, upaya saat Ajeng mendirikan Hijup terlihat mudah. Tetapi lazimnya pebisnis lain, Ajeng juga mengalami jatuh bangun.

Di awal merintis Hijup, dia harus mengerjakan segala sesuatu yang terkait dengan kelangsungan bisnis Hijup itu sendirian. “Dari mulai mengajak desainer untuk bergabung, kurasi produk, pilih model, foto, sampai ke pengiriman kepada pelanggan. Segalanya ia kerjakan sendiri,” ujar Ajeng.

Ajeng baru merekrut karyawan tidak lama setelah Hijup berdiri. Tapi tak lama kemudian, sang karyawan mengundurkan diri secara mendadak.

Tentu kenyataan ini membuatnya pusing bukan kepalang. Tapi dukungan dari suami yang juga pebisnis digital dan tekad mengembangkan bisnis, membuat Ajeng bertahan.

Alih-alih patah semangat, dia dapat memetik hikmah dari persoalan karyawan yang keluar mendadak. “Saya menjadi sadar pentingnya sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidangnya agar Hijup bisa sustainable,” ucap perempuan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) ini.

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Ajeng dalam memilih SDM termasuk desainer, semakin terasah. Dia juga kian jeli memilih dan menampilkan produk.

diajeng lestari

Ini menjadi modal yang sangat kuat untuk Ajeng untuk mengibarkan bisnis Hijup. Berbekal kemampuan dan kesadarannya akan potensi bisnis fashion muslim di Indonesia, Ajeng juga percaya diri untuk menghampiri investor.

Dia yakin banyak investor yang berminat pada bisnis fashion muslim lantaran potensi bisnisnya yang sangat besar di negeri ini. Mengutip data Thomson Reuters dalam State of the Global Islamic Economy 2015 Indonesia yang menempati urutan kelima sebagai negara konsumen busana muslim terbesar di dunia dengan nilai US$ 12,69 miliar di tahun 2014.

Ditolak investor

Tetapi potensi Indonesia sebagai pasar busana muslim yang besar di dunia bukan satu-satunya pertimbangan investor. Ajeng juga tidak luput dari penolakan investor.

Yang dia ingat ialah penolakan karena alasan ia membawa sang anak saat menghadiri meeting. “Saat itu saya bertemu dengan investor membawa Laiqa, putri kecil saya. Calon investor langsung bertanya kepada saya, “Oh, meeting bawa anak ya? Saya nggak bisa ngasih karena kamu punya anak,” ucap dia.

Pernyataan sang investor membuatnya kaget sekaligus sedih karena alasan penolakan itu tidak berhubungan dengan potensi bisnis yang diusung Hijup.

Seperti permasalahan dalam SDM, kendala mencari modal juga tidak menghentikan langkah Ajeng. Dia menyadari pentingnya mempunyai pendanaan supaya bisnisnya dapat berjalan.

Mengingat kepanjangan dari Hijup ialah Honest, Innovative, Just Do It, Unique and Pray, Ajeng tidak pernah kehilangan semangat mengurus Hijup.

Dia berjuang mendapatkan suntikan investor. Gayung juga bersambut, beberapa investor mau mendanai sampai Hijup dapat tumbuh sebagai e-commerce fashion muslim yang besar.

Mengutip Tabloid Kontan Edisi Khusus bulan Desember 2015, modal awal Hijup tahun 2011 ialah Rp 5 juta. Sekarang nilai modal Hijup tentu sudah jauh di atas itu.

Tahun lalu saja, omzet Hijup sudah mencapai Rp 2 miliar per bulannya. Sayang, Ajeng enggan terbuka untuk bercerita tentang siapa saja investor di Hijup dan sudah berapa banyak modal yang sudah diterima oleh Hijup.

Ajeng menyadari industri fashion muslim semakin lama semakin dilirik oleh banyak pihak. Industri ini juga kian kompetitif baik di dalam ataupun di luar negeri.

Sebagai pemain di industri ini, Ajeng juga sadar harus selalu kreatif, peka terhadap dinamika perubahan yang sangat cepat dan memastikan bahwa bisnis yang dijalankan ini senantiasa sustainable.

Selain itu, peningkatan permintaan produk fashion muslim juga terus berjalan cepat dan pesat. Permintaan yang datang juga bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

Hal inilah yang menjadi tantangan Hijup untuk terus mengakomodasi kebutuhan perempuan muslimah, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional,” tambah Ajeng.

Kiblat dunia

Dengan tuntutan untuk selalu dapat membaca tren fashion muslim secara global, Hijup sekarang mampu mengekspor produknya ke luar negeri. Ajeng menuturkan, pembeli di Hijup yang berasal dari luar Indonesia yang mencapai 20%.

Kebanyakan, pesanan untuk produk Hijup datang dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, India, Moroko, Aljazair, Australia dan Inggris.

Adanya permintaan dari luar negeri bukan tanpa sebab. Permintaan dari luar negeri ini yang cukup banyak itu muncul karena beragamnya produk yang dipunya Hijup.

Berdasarkan pengalaman Ajeng, produk yang disukai oleh pelanggan di dalam dan di luar negeri sejatinya tak ada perbedaan yang signifikan. Hanya saja, pelanggan di luar negeri lebih menyukai dress, abaya dan ciput (inner kerudung).

“Karena mungkin di luar negeri kurang banyak pilihan dari kategori produk itu. Namun, untuk range produk di Hijup sendiri sangat variatif hingga dapat dicocokkan dengan kebutuhan setiap pelanggan,” terangnya.

Sampai sekarang, sudah ada puluhan ribu produk yang dijual di Hijup. Jumlah produk bisa dan variatif karena adanya dukungan dari banyak disainer yang bekerja sama dengan Hijup.

Menurut Ajeng, perancang yang bekerjasama dengan Hijup selalu dituntut untuk mampu menangkap peluang perubahan yang cepat dengan karya yang unik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sampai saat ini, jumlah tenant atau mitra desainer yang bekerjasama dengan Hijup mencapai 265.

Ajeng percaya bahwa semakin banyak permintaan dari luar negeri, akan menguatkan posisi Indonesia menjadi kiblat fashion muslim dunia. “Ini semua berjalan beriringan dengan visi utama Hijup, yaitu bersama pemerintah Indonesia menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia,” ucap Ajeng.

Supaya dapat mewujudkan mimpi itu, ia sadar tidak hanya perlu menyediakan produk bagus, tapi juga pelayanan yang oke. Peningkatan layanan dia perhatikan dengan memegang prinsip customer oriented.

Dengan prinsip ini, lahirlah inovasi Hijup Express. Bentuk inovasi ini ialah pengiriman barang di hari yang sama dengan pesanan diterima. Tapi, same day delivery ini baru mencakup area Jakarta.

Di samping itu, untuk pengiriman reguler Hijup bekerjasama dengan beberapa perusahaan ekspedisi. “Jumlah armada masih terus ditingkatkan hingga saat ini menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan Hijup,” tambahnya.

Mempunyai tekad yang kuat untuk dapat menciptakan kiblat fashion muslim dunia dengan berbagai inovasi yang mumpuni, memungkinkan Hijup untuk tumbuh dengan laju yang cepat, sampai lima kali lipat setiap tahunnya.

Skala bisnis yang bertumbuh itu paling tidak terlihat di luas kantor Hijup.

Pada saat berdiri, kantor Hijup hanya menempati ruangan seluas 9 m². Kantor ini ditempati Ajeng bersama tiga orang karyawannya. Sekarang kantor Hijup seluas 1.000 m² yang menampung karyawan sebanyak 150 orang.

Belajar dari luar

Tangan dingin Ajeng membesarkan Hijup juga mendapatkan pengakuan dari luar negeri. Dia kerap diundang ke acara-acara berskala dunia untuk memperkenalkan tren fashion muslim ciri khas Indonesia.

Ajang yang sempat disinggahi Ajeng ini seperti International Fashion Showcase on London Fashion Week di bulan Februari 2016 lalu.

Ajeng juga sering diundang untuk mengikuti forum start-up baik lokal ataupun global. Di bulan Juni 2016, bertepatan pada bulan puasa Ramadhan lalu, Hijup diundang untuk mengikuti program Google Launchpad Accelerator di Mount View, California (Amerika Serikat).

Hijup tergabung di batch kedua bersama dengan lima start-up Indonesia lain untuk mengikuti boot camp selama dua minggu. Ajeng menilai, keikutsertaan dalam Google Launchpad Accelerator itu penting untuk kemajuan Hijup itu sendiri.

“Berbagai kelas kami ikuti untuk dapat menemukan strategi dan inovasi tepat untuk setiap bidang start-up. Bagaimana semua ilmu yang kami dapatkan di sini akan sangat bermanfaat untuk pemilihan dan implementasi strategi serta inovasi Hijup,” ucap Ajeng.

Wanita kelahiran 1986 ini merasakan hadir di forum global seperti ini penting karena dapat menimba ilmu dari para ahli di start-up. Maklumlah, di negara barat start-up sudah lebih dulu bergulir. “Jadi kita dapat menimba best practice dari mereka,” ucapnya.

Contoh yang ia petik dari forum global itu ialah cara menjadi lean start-up, alias menjadi start-up yang efisien. “Kita perlu data based, bukan lagi berdasar asumsi,” ucapnya.

Tapi bagi yang baru memulai perusahaan rintisan dan belum kebagian tiket ke forum global, Ajeng berbagi tips. Berbagai ilmu tentang start-up sudah terserak di dunia maya. “Sekarang zamannya internet. Kita dapat materi dari manapun,” sarannya.

Cerita Diajeng Lestari Membesarkan Situs Hijup.com | ahmad handi | 4.5